KLIKAENEWS.COM- MADIUN – Jika menelusuri sejarah lama di selatan Madiun, nama Sewulan kerap muncul dalam berbagai cerita tentang ulama, santri, dan jaringan pesantren kuno di Jawa. Kini Sewulan hanyalah sebuah desa yang tenang. Namun pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, kawasan ini dikenal sebagai tanah perdikan, wilayah istimewa yang dibebaskan dari pajak dan diperuntukkan bagi para tokoh agama.
Jejak sejarah tersebut muncul dalam berbagai kronik Jawa, arsip kolonial, hingga tradisi lisan pesantren. Sewulan bahkan disebut sebagai salah satu “kampung ulama” yang dihormati di wilayah Mataram bagian timur.
Peneguhan pada Masa Mataram
Status Sewulan sebagai tanah perdikan semakin jelas setelah penataan wilayah pada 1743. Saat itu terjadi perjanjian antara Keraton Mataram dan VOC yang menandai perubahan besar dalam peta politik Jawa.
Dalam perjanjian antara Pakubuwono II dan VOC, wilayah pesisir Jawa diserahkan kepada perusahaan dagang Belanda tersebut, sementara daerah pedalaman seperti Madiun, Ponorogo, dan Magetan tetap berada di bawah pengaruh keraton.
Pada masa itulah sejumlah tanah perdikan milik ulama diteguhkan kembali. Sewulan termasuk di antaranya karena dikenal sebagai lingkungan para guru agama yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat.
Kampung Ulama di Jalur Ponorogo–Madiun
Letak Sewulan yang berada di jalur antara Ponorogo dan Madiun membuatnya berkembang sebagai simpul pertemuan ulama dan santri. Catatan kolonial yang kemudian dikaji sejarawan seperti M. C. Ricklefs dan Peter Carey menyebut kawasan selatan Madiun sebagai wilayah dengan jaringan ulama yang kuat.
Dalam laporan VOC bahkan disebut adanya daerah bebas pungutan pajak yang sejak lama berada di tangan tokoh agama. Deskripsi tersebut sangat sesuai dengan kawasan yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai Perdikan Sewulan.
Terhubung dengan Tegalsari
Sejarah Sewulan juga tidak bisa dilepaskan dari pesantren Tegalsari di Ponorogo yang dipimpin oleh Kyai Ageng Muhammad Besari. Pada abad ke-18, Tegalsari dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Jawa.
Hubungan keilmuan antara Tegalsari dan Sewulan membentuk jaringan ulama yang luas di wilayah Mataram timur. Banyak santri yang menuntut ilmu di Tegalsari kemudian mengajar di Sewulan, sementara para ulama Sewulan juga terhubung dengan berbagai pusat pendidikan agama di Jawa Timur.
Diakui sebagai Tanah Bebas Pajak
Memasuki abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda tetap mengakui Sewulan sebagai vrijdomein, yakni tanah bebas pungutan pajak milik kaum ulama. Dalam laporan administrasi Residentie Madioen, Sewulan disebut sebagai kampung kaum alim yang digunakan untuk masjid, langgar, serta tempat tinggal para guru agama.
Setelah reorganisasi wilayah pasca Java War yang dipimpin oleh Prince Diponegoro, wilayah Sewulan kemudian dimasukkan dalam Distrik Oeteran dalam struktur pemerintahan kolonial Madiun.
Wilayah Pengaruh yang Luas
Pada masa lalu, Sewulan bukan hanya satu desa kecil. Kawasan ini dikenal sebagai pusat ulama yang memiliki pengaruh luas di wilayah selatan Madiun.
Wilayah yang berada dalam lingkup pengaruhnya meliputi daerah yang kini menjadi Kecamatan Geger, Kebonsari, Dolopo, Dagangan, Wungu hingga Kare. Jalur ini pada masa lampau dikenal sebagai lintasan penting bagi para santri dan ulama yang bergerak antara Ponorogo dan Madiun.
Berakhir pada Masa Pendudukan Jepang
Status tanah perdikan akhirnya berakhir pada masa pendudukan Jepang pada 1942. Pemerintah militer Jepang menghapus berbagai sistem tanah tradisional di Jawa, termasuk tanah perdikan dan tanah lungguh.
Meski demikian, kehidupan religius di Sewulan tetap bertahan. Pengajian, aktivitas ulama, hingga pertemuan tokoh agama tetap berlangsung dan menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat menjelang masa kemerdekaan.
Saat ini Sewulan juga dikenal sebagai tujuan wisata religi, terutama karena keberadaan makam Kiai Ageng Basyariah. Ia merupakan putra dari ulama besar Tegalsari Ponorogo, Kyai Hasan Besari, yang berperan penting dalam perkembangan pendidikan agama di kawasan tersebut.
Secara genealogis, sejumlah tokoh ulama Sewulan juga disebut memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga besar Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama. Jejak sejarah inilah yang membuat Sewulan tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga bagian dari jalur spiritual ulama di Jawa yang masih hidup hingga kini. ( Zm )
.


