Langsung ke konten utama

TOLERANSI DALAM KELUARGA


OLEH : REYZA W. PERMADI 
(Mahasiswa STAIN Ponorogo)
 A.               Pengertian Keluarga

Keluarga (bahasa sansekerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota")adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Dalam Islam pemimpin keluarga adalah sang ayah lalu turun derajat dibawahnya ialah ibu dan derajat paling bawah ialah anak. Sering kita menemukan dalil-dalil yang menjelaskan tentang derajat-derajat tersebut dan sering kali dengan alasan derajat tersebut ada sebagian orang yang keliru menafsirkan dalil-dalil tersebut sehingga merasa berkuasa dan semena –mena kepada anggota keluarga yang lain, untuk itu dalam bab-bab selanjutnya akan dipaparkan dalil-dalil dan argumen tentang kolerasai antara Ayah ke ibu, ibu ke ayah, anak kepada orang tua, dan orang tua kepada anak sehingga membentuk keseimbangan  antara kesemuanya dan membuat keluarga yang harmonis yang diimpikan oleh setiap umat Islam yang dalam istilah mereka ialah keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.[1]
B.                 Hubungan Ayah Dan Ibu

اْلرِّجَالُ قَوَّمُوْنَ عَلَى أْلنِسَاْءِ"

Dari dalil diatas jelas bahwa kaum pria lebih tinggi derajatnya dalam keluarga sehingga sebagian orang menggunakan dalil ini untuk menindas kaum perempuan, padahal kenyataannya peran pria didalam keluarga yaitu suami sekaligus ayah sangatlah berat dalam keluarga, suami haruslah menafkahi istri baik lahir maupun batin dan sebagai ayah juga, dia harus memberi nafkah anaknya. belum cukup dengan nafkah materi laki-laki juga wajib membimbing keluarganya pada jalan yang benar sehinnga selamat dunia dan akhirat seperti firman Allah :

يَا اَيُّهَاالَّذِيْنَاامَنُوْاقُوْاَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِكُمْ النَارَ
“ wahai orang-orang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka “

Maka jelas jika melihat dalil diatas bahwa seorang laki-laki resikonya sangatlah berat karena mempunyai tanggung jawab dalam melindungi keluarganya dari dosa yang menjerumuskan kedalam api neraka.
Lalu bagaimana cara membimbing sang istri agar menjadi baik, Rasulluh bersabda dalam suatu hadits :

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
Artinya :
"Nasihatilah para wanita kerana wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya, jika kamu mencuba untuk meluruskannya maka dia akan patah namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita" (Hadis Sahih Bukhari)

Rasulullah mengajarkan umatnya dalam membimbing istri hendaknya dengan lembut dan tidak semena-mena. dan janganlah mengumbar amarah karena suami mempunyai kekeramatan yang sangat dahsyat, di ceritakan dalam suatu hadits bahwa suami adalah penentu masuk surga atau masuk nerakanya sang istri, dalam suatu hal yang saja seperti istri tidak mau digauli oleh suami maka malaikat melaknatnya sampai pagi :

ذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلىَ فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.


Artinya :
“Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ketempat tidurnya kemudian ia enggan dan menolaknya hingga suaminya tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknat istri tersebut sampai pagi hari.”

Maka hendaknya sang suami harus bersabar dalam mengahadapi istri, istri ialah seseorang yang mau mengandung anak dari suami merawatnya, menyusui, dan orang yang paling dicintai oleh sang suami, apakah tega jika orang yang paling dicinta dilaknat oleh malaikat sampai pagi ?, maka tentulah jawabannya tidak, dari pernyataan yang sudah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa toleransi dalam keluarga sangatlah penting.

Seperti Sayyidina Umar bin Khatab yang ketika menjadi Khalifah, “ ketika seorang sahabat ingin melaporkan istrinya karena pebuatannya yang selalu cerewet kepada Khalifah Umar bin Khatab, sampai didepan rumah Khalifah dia mendengar Umar bin Khatab sedang diomeli oleh istrinya, maka mendengar itu  sahabat lalu pergi, tak lama kemudian Umar keluar rumah dan melihat sahabat itu lalu ditanya lah sang sahabat. “ hai fulan, aku lihat kau tadi ingin bertamu! Kenapa kau tidak jadi bertamu?”. Maka sahabat menjawab,.” Aku ingin melaporkan perbuatan istri ku yang cerewet dan aku ingin meminta fatwa mu tentang kejadian itu, namun setelah aku mendengar kau diomeli istrimu maka aku pergi karena aku berpikir bahwa nasib kita sama dan aku lihat engkau diam saja.” Umar pun menjawab!” aku diam karena istriku lah yang membantuku dalam urusan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengurus segala keperluan anak-anak ku.”[2]

Sebagai umat Islam kita dianjurkan menerapkan saling pengertian di dalam rumah tangga seperti firman Allah :

وَعاسرهُنَّ بِاالمَعرُوْف
Artinya : perlakukanlah mereka dengan baik

Seyogyanya hubungan dalam keluarga didasari dengan rasa pengertian.
             
Lalu bagaimana peran seorang istri dalam keluarga..?, banyak sekali dalil yang menjelaskan bagaimana pahala yang sangat banyak jika seorang istri mampu melayani suaminya dengan baik dan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, bahkan wanita yang pertama masuk surga ialah yang mau melayani dan hormat kepada suami seperti kisah Mutiah, wanita pertama yang masuk surga.
             
Diceritakan bahwa putri rasullullah fatimah az-zahra bertanya tentang perihal siapa wanita yang pertama masuk surga. Lalu baginda Rasulullah menjawab Mutiah lah orangnya, fatimah terheran karna bukan dari keluarga Rasullullah sendiri. Mendengar pernyataan Rasulullah, Fatimah mencaritahu amalan apakah yang dilakukan sehingga dia mendapatkan kehormatan menampakkan kakinya sebagai wanita pertama yang masuk surga. Fatimah pergi ke rumah Mutiah dengan membawa Husein cucu nabi, setelah didepan rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ”assalamu’alaikum.”..”wa’alaikum salam!!siapa ya?....”aku Fatimah putri Rasulullah. ”Fatimah menjawab.! lalu dengan gembira Mutiah membukakan pintu karena ada putri Rasulullah yang datang, “bolehkah aku bertamu wahai Mutiah?. ”Fatimah mengajukan permohonan agar dia mengetahui amalan apa yang dilakukan oleh ahli surga itu, ”maaf....aku belum izin kepada suami ku untuk memperbolehkan kaum laki-laki masuk!. ”tapi Husein hanyalah anak kecil, ”jawab Fatimah !.”tapi tetap saja tidak boleh! besok engkau datanglah kemari, aku akan izin suamiku! Keesokan harinya Fatimah kembali ke rumah Mutiah lalu setelah mendapat izin dari suaminya maka dipersilahkanlah Fatimah kedalam rumahnya, melihat rumah Mutiah yang sangat sederhana namun rapi, perkakasnya tertata, dan bau rumahnya pun harum. Tatkala melihat meja makan Mutiah yang diatasnya ada makanan dan disampingnya ada cambuk, Fatimah pun bertanya-tanya. ”apa suami mu seorang penggembala ?.”tanya Fatimah,”  bukan !,”jawab Mutiah., ”lalu buat apa cambuk ini berada diatas meja?, ” sambung Fatimah dengan kembali bertanya. ”cambuk ini agar suamiku bisa mencambukku jika masakan ku tidak enak., ”apa suamimu yang menyuruhmu melakukan itu ?.,”tidak! Aku sendirilah yang menginginkannya.,” setelah mengetahui amalan yang dilakukan oleh Mutiah lalu ia pun pulang dan mengerti bahwa hormat dan patuh kepada suami adalah amalan yang apabila dilakukan mendapat pahala yang sangat besar.
           
Berikut pahala wanita yang berbakti pada suami :
  • Sekali suami minum air yang disediakan oleh isterinya adalah lebih baik dari berpuasa setahun.
  • Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya lebih baik dari isteri itu mengerjakan haji dan umrah.
  • Mandi junub si isteri disebabkan jimak oleh suaminya lebih baik baginya daripada mengorbankan 1,000 ekor kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin.
  • Apabila isteri hamil ia dicatatkan sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad.
  • Pemeliharaan yang baik terhadap anak-anak adalah menjadi benteng neraka, pandangan yang baik dan harmonis terhadap suami adalah menjadi tasbih (zikir).
  • Tidak akan putus pahala dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.
  • Apabila meninggal dunia seorang dan suaminya ridha, niscaya ia dimasukkan ke dalam syurga.[3]


C.     Hubungan anak dengan orang tua

Anak adalah derajat yang terendah dalam keluarga, dalam Islam anak wajib menaati semua yang diperintahkan orang tua tanpa harus membantah, terkecuali jika kita diperintahkan melakukan perbuatan yang salah maka kita harus menolaknya dengan halus. Allah berfirman dalam kitabnya :



وَلَاتَقُلَّهُمَاوَلَوْاُفٍ
Artinya :
“Jangan bantah mereka walau dengan kata “ah””

Selain dalil diatas yang mengatakan bahwa dilarang membantah orang tua, ada hadits yang lain yang sangat terkenal sekali, itu menjelaskan tentang bagaimana ridlo Allah bergantung pada ridlo orang tua :

رِضَى اللَّهِ فِى رِضَى الْوَلِدَيْنِ وَسُحْطُ اللَّهِ فِى سُحْطِ الْوَلِدَيْنِ

Artinya :
”Ridlo Allah tergantung pada ridlo orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”
             
Begitu berbahayanya jika kita membuat orang tua marah sehinggga ada Allah yang mem back up kemarahannya, untuk itu sebagai orang tua juga harus hati-hati dalam mengendalikan amarah. Sering kita jumpai orang tua yang sedang marah menyumpahi anaknya dengan kata-kata tidak baik, seperti. Anak nakal!, Anak bodoh!, pemalas!, dsb. Orang tua tidak menyadari bahwa dalam perkataannya ada kemustajaban yang ketika diucapkan bakal jadi kenyataan. Maka janganlah gampang-gampang marah hanya karena masalah sepele yang dilakukan anak sehingga kata itu terucap yang membuat perkataan itu dikabulkan oleh Allah.
            
Pada dasarnya Allah mengatur bapak sebagai pemimpin dan seterusnya ada anggota lain yang dibawahya agar ada keseimbangan dan korelasi antara yang diatas dan dibawah, yang diatas mengasihi dan menjaga sedangkan yang ada dibawah menghormati dan menyayangi sehingga ada keharmonisan dalam keluarga. Setelah kami paparkan dalil serta argumen kami sekiranya tidak ada penindasan dan kekerasan dalam keluarga, yang kami harapkan setelah membaca makalah ini terwujudnya toleransi dalam keluarga.


[1]http://www.pengertianahli.com/2013/11/pengertian-keluarga.html
[2]Muhamad nawawi.uqudul hijain.2008(karya toha putra : semarang) hal 25
[3]http://www.hadistislam.com/2012/05/ada-8-pahala-buat-isteri-yang-soleha.html

Postingan populer dari blog ini

Danrem 081/DSJ Resmikan Ambulance IGD dan Ruang Isolasi Rumkit Tingkat IV Madiun

AENEWS9.COM| |Kota Madiun – Rumah Sakit tingkat IV Madiun saat ini semakin meningkatkan kualitas sarana dan prasarana yang dimiliki. Salah satunya yaitu dengan keberadaan satu unit mobil ambulance IGD baru dan ruang isolasi. Diharapkan dengan sarana dan prasarana yang semakin baik, nantinya akan dapat membuat rumah sakit tersebut semakin maju dari segi pelayanaannya. “Apa yang sudah ada agar terus dikembangkan. Supaya rumah sakit ini semakin baik dan bagus,” kata Danrem 081/DSJ Kolonel Inf Waris Ari Nugroho, S.E, M.Si, dalam sambutannya, Selasa (11/1/2022). Lebih dari itu, Danrem juga berpesan agar Karumkit tingkat IV Madiun, Mayor Ckm dr. Aan Riswandi Sp.PK mampu terus berinovasi dan berkreasi. “dr. Aan meskipun masih baru menjabat sebagai Karumkit harus terus mendesain rumah sakit ini supaya tetap semakin bagus,” lanjutnya. Dengan adanya berbagai upaya yang terus dilakukan, Danrem berharap masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan dari Rumkit tingkat IV Madiun akan se...

4 Jembatan Garuda Selesai di bangunn di Ponorogo Hadirkan Beribu Manfaat

Ponorogo,  KLIKAENEWS.COM - Empat Jembatan Garuda berjenis jembatan gantung telah selesai dibangun di Kabupaten Ponorogo. Keempatnya berada di Desa Sidoarjo (Kecamatan Jambon), Desa Mojomati (Kecamatan Jetis), Desa Jalen (Kecamatan Balong), dan Desa Bungkal (Kecamatan Bungkal). Kehadiran jembatan-jembatan tersebut mampu menghadirkan beribu manfaat, baik bagi masyarakat maupun kemajuan desa. Di Sidoarjo misalnya, kehadiran Jembatan Garuda mampu menghapus kesulitan-kesulitan warga selama ini. "Sebelum ada jembatan, warga harus memutar lebih jauh jika mau ke wilayah sebelah, termasuk anak-anak yang mau berangkat sekolah dan warga yang mengangkut hasil panen, jika hujan dan banjir maka harus menunggu banjir reda lebih dahulu agar bisa lewat," kata Kepala Dusun Sidowayah Katimun di lokasi jembatan, Selasa (8/9/2026). Cerita sama juga terjadi di Mojomati, Jembatan Garuda sepanjang 70 meter dengan lebar 1,2 meter yang dibangun menjadi penghubung antara Kecamatan Jetis dengan Kecamat...

Paslon 1 Terpilih, Pemilihan Ketua OSIS SMPN 3 Ponorogo Jadi Praktik Demokrasi Pelajar

PONOROGO   KLIKAENEWS.COM-  Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 3 Ponorogo masa bakti 2026/2027 menjadi ruang belajar demokrasi bagi para pelajar. Dari tiga pasangan calon yang berkompetisi, pasangan nomor urut 1, Kinaya Adiasti Azzaha dan Jingga Az-Zahra Al-Fath Setiawan, terpilih memimpin organisasi siswa tersebut untuk masa bakti 2026/2027.Rabu (23/09/2026 Paslon 1 memperoleh 316 suara. Paslon 2, Ozie Gentha Mahardika Nadindra dan Maulana Damar Dwi Guna, meraih 143 suara, sedangkan Paslon 3, Yusuf Ilyasa Al Hafidh dan Justin Fan Aprilio, memperoleh 117 suara. Sebanyak 63 suara dinyatakan tidak sah. Pemilihan yang diikuti tiga pasangan calon serta peserta didik kelas VII, VIII, dan IX itu dirancang sebagai sarana pembelajaran demokrasi bagi warga sekolah. Selain Paslon 1, terdapat Paslon 2 Ozie Gentha Mahardika Nadindra dan Maulana Damar Dwi Guna, serta Paslon 3 Yusuf Ilyasa Al Hafidh dan Justin Fan Aprilio. Kepala SMPN 3 Ponorogo H.Subhan Masruri, S.Pd., mengatakan k...