Patung Kolonel Marhadi: Landmark Sunyi Penjaga Ingatan Sejarah Madiun - .

Breaking

Search

25/01/26

Patung Kolonel Marhadi: Landmark Sunyi Penjaga Ingatan Sejarah Madiun

Patung Kolonel Marhadi ikonik Alun-alun kota Madiun 

Madiun,KLIKAENEWS.COM - Di tengah hiruk pikuk Alun-Alun Kota Madiun, berdiri sosok prajurit dengan sikap tegap dan pandangan lurus ke depan. Patung Kolonel Marhadi bukan sekadar elemen estetika ruang kota. Ia adalah penanda sejarah, pengingat sunyi atas salah satu bab paling kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia.


Kolonel Marhadi—atau Kolonel Infanteri Marhadi—dikenal sebagai salah satu prajurit TNI berpangkat tertinggi yang gugur dalam peristiwa berdarah tahun 1948, yang kemudian tercatat dalam sejarah nasional sebagai Pemberontakan PKI Madiun. Sebuah tragedi yang tidak hanya mengguncang stabilitas negara muda Republik Indonesia, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi Kota Madiun sebagai episentrum peristiwa.


Peristiwa kelam itu meletus pada 18 September 1948. Sebuah gerakan makar dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan tujuan menggulingkan pemerintahan yang sah dan mendirikan Republik Soviet Indonesia. Madiun pun menjadi saksi bisu—sekaligus panggung utama—atas konflik ideologi yang berdarah dan penuh korban.


Dalam pusaran konflik tersebut, Kolonel Inf Marhadi berada di garis depan. Ia gugur saat pertempuran di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, bersama ratusan korban lainnya. Gugurnya Kolonel Marhadi menjadi simbol pengorbanan prajurit yang setia pada sumpahnya, mempertahankan kedaulatan negara hingga titik darah terakhir.


Ambisi pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Muso atau Munawar Muso akhirnya dapat digagalkan. Pasukan Siliwangi berhasil menumpas gerakan tersebut pada 30 September 1948, mengakhiri salah satu episode paling genting dalam sejarah awal Republik Indonesia.


Sebagai pengingat tragedi nasional itu, nama Kolonel Inf Marhadi tidak hanya diabadikan dalam bentuk patung di jantung kota, tetapi juga menjadi salah satu nama jalan di Kota Madiun. Sebuah penanda ruang yang mengikat ingatan kolektif warga dengan sejarah perjuangan bangsanya.


Kini, patung Kolonel Marhadi berdiri sebagai landmark. Ia menyaksikan anak-anak bermain, warga berolahraga, dan denyut kehidupan kota yang terus bergerak maju. Namun kehadirannya seolah menjadi pengingat senyap: bahwa kemerdekaan dan stabilitas yang dinikmati hari ini lahir dari pengorbanan, darah, dan keberanian mereka yang tak sempat menyaksikan Indonesia tumbuh besar.

Di tengah modernisasi dan perubahan wajah kota, Kolonel Marhadi tetap berdiri—sunyi, tegas, dan abadi. Menjaga bukan hanya alun-alun, tetapi juga ingatan sejarah agar tak larut ditelan waktu.( Hlmy)