PONOROGO KLIKAENEWS.COM - Di Ponorogo, budaya bukan sekadar warisan yang dipajang dalam etalase sejarah. Ia hidup, berjalan, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semangat itulah yang terasa dalam Kirab Budaya Grebeg Tutup Suro Bantarangin 2026 di kawasan Monumen Bantarangin, Somoroto, Kecamatan Kauman, Kamis (16/7).
Perhelatan tahunan ini menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Tradisi yang lahir dari akar sejarah Kerajaan Bantarangin kembali diteguhkan sebagai identitas budaya masyarakat Ponorogo, sekaligus pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan kesinambungan, bukan sekadar seremoni.
Kehadiran Plt. Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita bersama H. Amin, SH., Bupati Ponorogo periode 2010–2015, menghadirkan makna simbolik tentang estafet kepemimpinan dalam menjaga nilai-nilai budaya. Di hadapan ribuan masyarakat, Lisdyarita menyampaikan apresiasi atas dedikasi H. Amin yang dinilai konsisten menghidupkan denyut budaya Bantarangin.
"Kehadiran Bapak Haji Amin merupakan wujud nyata bahwa api kecintaan serta pengabdian terhadap budaya Ponorogo tidak pernah padam," ujar Lisdyarita.
Nama H. Amin sendiri tidak dapat dilepaskan dari kebangkitan Grebeg Tutup Suro Bantarangin. Gagasannya menjadikan kawasan petilasan Kerajaan Bantarangin sebagai pusat aktivitas budaya telah membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenali sejarah asal-usul Reog Ponorogo secara lebih dekat.
Melalui Bantarangin Coop, ia turut membangun ekosistem yang menghubungkan pelaku seni, budayawan, dan masyarakat. Tradisi seperti Buceng Porak, Bedhol Pusoko, ketoprak, hingga ludruk terus mendapatkan ruang untuk tumbuh sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
Namun, pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya menjaga tradisi. Di Bantarangin, budaya juga menjadi penggerak kehidupan ekonomi masyarakat. Deretan pelaku UMKM yang memenuhi kawasan kirab menjadi bukti bahwa kegiatan budaya mampu menciptakan ruang produktif sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.
Momentum Grebeg Tutup Suro memperlihatkan bahwa budaya dan pembangunan bukan dua hal yang saling bertolak belakang. Keduanya justru dapat berjalan beriringan ketika sejarah dijaga, masyarakat dilibatkan, dan pemerintah memberikan dukungan terhadap keberlanjutan tradisi.
Saat Lisdyarita melepas kirab dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, prosesi itu bukan sekadar tanda dimulainya arak-arakan budaya. Lebih dari itu, ia menjadi simbol estafet pelestarian budaya—bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama ada generasi yang bersedia merawat, melanjutkan, dan mewariskannya kepada masa depan.( Ded)


