![]() |
| Karang Taruna Wira Muda Kranggan berpose dengan hasil karyanya dari pelatihan ekobrick sofa botik |
Pelatihan ini tak sekadar mengajarkan teknik mengisi botol plastik dengan sampah anorganik hingga padat, namun juga mempraktikkan langsung bagaimana ekobrik dapat dirangkai menjadi produk fungsional, salah satunya sofa sederhana yang kuat dan ramah lingkungan. Suasana pelatihan berlangsung santai, interaktif, dan penuh diskusi—mencerminkan semangat belajar khas anak muda desa.
Pemateri dari Rumah Kreatif BSJ Magetan,Juli menekankan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat dimulai dari hal paling sederhana. Dengan konsistensi dan kreativitas, ekobrick bukan hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai guna bahkan bernilai ekonomi.
![]() |
| Duduk melingkar, bekerja bersama. Karang Taruna Wira Muda membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari botol bekas, disulap menjadi sofa ekobrik yang ramah lingkungan dan penuh makna. |
Bagi Karang Taruna Wira Muda, pelatihan ini menjadi bekal penting untuk membangun kesadaran kolektif tentang isu sampah di tingkat desa. Lebih dari itu, keterampilan membuat ekobrcik membuka ruang gerak baru bagi organisasi kepemudaan—baik untuk kegiatan lingkungan, edukasi masyarakat, hingga pengembangan program kreatif berbasis daur ulang.
Kepala Desa Kranggan, Puguh Subiono,menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat.“Kami ingin warga memandang sampah secara berbeda. Bukan hanya sebagai masalah, tetapi sebagai potensi yang bisa dikelola dan memberi manfaat,” ujarnya.
Di tempat yang sama Ketua Karang Taruna Wira Muda Desa Kranggan Aditya Putra Aldi, dalam keterangannya, menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi langkah awal membangun peran aktif pemuda desa dalam persoalan lingkungan.
“Selama ini sampah sering dianggap masalah yang merepotkan. Lewat pelatihan ekobrick ini, teman-teman karang taruna jadi paham bahwa sampah bisa diolah, dimanfaatkan, bahkan dijadikan karya. Ke depan, kami ingin Karang Taruna ikut ambil bagian dalam edukasi pengelolaan sampah di desa,” ujarnya.
Hal menarik dari pelatihan tersebut bukan semata sofa yang dihasilkan, melainkan perubahan cara pandang yang perlahan tumbuh. Di ruang sederhana seperti balai PKK warga belajar bahwa menjaga lingkungan bukan tugas segelintir orang atau program sesaat, melainkan kebiasaan yang dibangun bersama, dari rumah ke rumah.
Dari botol bekas, Karang Taruna Kranggan mulai belajar mengelola sampah menjadi produk bernilai guna. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan karang taruna—mendorong kreativitas, kepedulian lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis komunitas pemuda desa.( Zain)





