Usaha ayam petelur dipilih karena dinilai prospektif dengan pasar stabil dan perputaran ekonomi cepat. Didukung kondisi geografis desa yang didominasi sektor pertanian, program ini diarahkan terintegrasi agar tercipta ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
Musyawarah yang melibatkan perangkat desa, BPD, BUMDes, dan masyarakat menyepakati pemanfaatan tanah kas desa sebagai lokasi peternakan, dengan pertimbangan efisiensi dan legalitas. Kepala Desa Agus Marmani,S.sos, menegaskan pentingnya integrasi pertanian dan peternakan agar manfaat ekonomi lebih luas.
Selain itu, aspek perizinan lingkungan menjadi perhatian utama. Pemerintah desa memastikan seluruh prosedur akan dipenuhi serta dilakukan sosialisasi kepada warga.
Direktur BUMDes Susi Irowati menyebut program ini tidak hanya berorientasi keuntungan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Warga pun mendukung, dengan catatan pengelolaan limbah harus ramah lingkungan, seperti diolah menjadi pupuk organik dan memperhatikan jarak kandang dari permukiman.
Pemerintah desa dan BUMDes berkomitmen melakukan pengawasan berkala agar program berjalan optimal, berkelanjutan, dan tidak menimbulkan dampak negatif. Desa Tanjungrejo pun optimistis program ini dapat menjadi model pengembangan BUMDes berbasis peternakan yang terintegrasi dan ramah lingkungan.( ZAM)


