Banteng Ketaton Madiun: Dari Monumen yang Disingkirkan hingga Ruang Publik yang Dihidupkan Kembali - .

Breaking

Search

28/01/26

Banteng Ketaton Madiun: Dari Monumen yang Disingkirkan hingga Ruang Publik yang Dihidupkan Kembali

Banteng Ketaton: Jejak Revolusi dan Seni di Jantung Stadion Wilis ( hlmy/foto istimewa)

Madiun,KLIKAENEWS.COM - Kota Madiun bukan hanya penting dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menyimpan jejak awal perkembangan seni rupa nasional. Di kota inilah Seniman Indonesia Muda (SIM)—perkumpulan yang digagas S. Sudjojono dan kawan-kawan—berdiri pada 1946. Setahun kemudian, Madiun kembali mencatat sejarah melalui pembangunan salah satu monumen publik awal karya pematung perempuan Indonesia, Trijoto Abdullah.

Monumen tersebut dikenal sebagai Banteng Ketaton, karya Trijoto Abdullah—adik pelukis Basoeki Abdullah—yang dibuat pada 1947. Patung berbahan batu ini menjadi simbol perlawanan rakyat Madiun terhadap Agresi Militer Belanda I, sekaligus penanda penting sejarah seni rupa Indonesia.


Secara simbolik, Banteng Ketaton dimaknai sebagai banteng yang terluka namun tetap menyeruduk, representasi sikap melawan dan mempertahankan diri dengan gigih. Dalam dokumentasi peneliti Indonesianis Claire Holt dari Cornell University, tercatat inskripsi bahwa monumen ini didirikan oleh rakyat Murba dan dipersembahkan kepada “Banteng Kurdho” serta “Pahlawan Bambu Runcing” pada 17 April 1947.


Pada bentuk awalnya, monumen ini tidak berdiri sendiri. Selain figur banteng, terdapat pula sosok rakyat pejuang berikat kepala yang mengangkat bambu runcing, lengkap dengan semboyan perlawanan “rawe-rawe rantas, malang-malang poetoeng”. Monumen tersebut mula-mula ditempatkan di depan Taman Makam Pahlawan Madiun, tepat di poros utama kota.

Baca Juga : Patung Kolonel Marhadi: Landmark Sunyi Penjaga Ingatan Sejarah Madiun

Namun, pada era Orde Baru, Banteng Ketaton dipindahkan ke kawasan Stadion Wilis. Sejak saat itu, figur pejuang rakyat tak lagi menyertai banteng tersebut. Pemindahan ini kerap dikaitkan dengan perubahan peta politik nasional, mengingat sang pematung disebut-sebut memiliki kedekatan dengan kelompok kiri, sehingga monumen ini sempat dipandang sebagai simbol perlawanan yang tidak sejalan dengan rezim kala itu.


Kini, kondisi Banteng Ketaton menunjukkan wajah yang jauh lebih baik. Berdasarkan pantauan terbaru, patung banteng tampak terawat, kokoh, dan kembali menjadi penanda ruang publik yang layak dikunjungi. Area pedestrian di sekitarnya juga telah ditata rapi, menyediakan ruang terbuka yang nyaman bagi warga untuk duduk bersantai, berinteraksi, maupun sekadar menikmati suasana kawasan Stadion Wilis Madiun.


Meski pernah tersisih dari ingatan kota, Banteng Ketaton hari ini berdiri kembali sebagai penanda sejarah, simbol perlawanan rakyat, dan warisan seni rupa yang menemukan tempatnya di ruang publik—menyatu dengan denyut aktivitas warga Madiun masa kini.( Hlmy/red)

*Dihimpun dari berbagai sumber