Langsung ke konten utama

Menyelamatkan Populasi Kerbau Rawa, Pampangan di Sumatra Selatan dari Kepunahan


AENEWS9.COM ||  Menyelamatkan populasi kerbau Rawa Pampangan memerlukan sebuah komitmen bersama antara semua komponen yang ada di sekitar ekosistem Kerbau Pampangan.    Kebakaran hutan dan lahan serta pembukaan perkebunan sawit memberikan ancaman bagi penyusutan populasi kerbau rawa pampangan, plasma nuftah khas Sumatra Selatan.


Ada satu fauna endemik di Sumatra Selatan yaitu kerbau rawa (swamp buffalo), satu dari dua golongan besar kerbau yang ada di dunia, selain kerbau sungai (river buffalo). Kerbau rawa di Sumsel ini telah diakui pemerintah sebagai sumber daya genetik (SDG) ternak lokal Indonesia.


Hewan bernama ilmiah Bubalus bubalis ini sesuai ciri khasnya gemar berenang dan menyelam di kawasan rawa gambut yang terdapat di Bumi Sriwijaya. Kerbau yang hobi bermain lumpur itu mudah dijumpai di Kecamatan Pedamaran, Jawi, Pangkalan Lampam, dan Pampangan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Populasinya juga bisa ditemui di Kecamatan Tanjung Senai (Kabupaten Ogan Ilir) dan Kecamatan Rambutan (Kabupaten Banyuasin).


Daerah-daerah di atas merupakan lumbung gambut Sumsel dengan luas total sebesar 1,2 juta hektare.Kendati dapat ditemui di banyak tempat di Sumsel, hewan berkaki empat itu dikenal juga dengan sebutan kerbau rawa pampangan. Hal itu karena asal usulnya memang bermula dari daerah itu.


Di dalam Keputusan Menteri Pertanian nomor 694/Kpts/PD.410/2/2013 tentang Penetapan Rumpun Kerbau Pampangan disebutkan bahwa plasma nuftah itu merupakan rumpun kerbau lokal asli Indonesia. Kerbau pampangan merupakan persilangan antara induk kerbau asal India dengan kerbau lokal pada awal abad 19.


Untuk memperkuatnya sebagai rumpun asli Indonesia, Badan Standardisasi Indonesia pada April 2016 menerbitkan standar nasional Indonesia (SNI) nomor 8292.2 tahun 2016 soal bibit unggul kerbau pampangan yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi. Hal itu mengacu kepada konsensus yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, 27 November 2015, dan jajak pendapat yang diadakan 28 Januari–28 Maret 2016.


Di masa Kesultanan Palembang awal abad 19, sejumlah indukan kerbau bersama para penggembalanya didatangkan langsung dari kawasan Teluk Benggala. Indukan-indukan unggul dari India itu kemudian dikawinkan dengan kerbau lokal. Kesultanan menempatkan kerbau-kerbau tersebut di kawasan rawa gambut Pulau Kuro yang kaya akan makanan alami berupa rumput hijau.


Menurut pakar kerbau rawa dari Universitas Sriwijaya Palembang Abrar Arpan, secara visual hewan ternak ini terlihat memiliki kekerabatan dengan murrah, jenis kerbau rawa dari Punjab, India. Ini adalah jenis kerbau rawa unggul dengan ciri khas garis chevrons, yaitu terdapat warna putih terang di bawah leher membentuk setengah lingkaran atau seperti bulan sabit.


Kerbau rawa pampangan, menurut dosen Peternakan Fakultas Pertanian Unsri itu, terpelihara pada suatu ekosistem pasang surut tahunan. Sehingga memiliki perilaku makan (feeding behavior) yang khas karena dibentuk oleh lingkungannya. Terutama kemampuan berenangnya yang cukup jauh serta dapat menyelam untuk mencari dan memakan tumbuhan hijau di dasar rawa.


Bahan Gulo Puan


Seperti halnya murrah, kerbau rawa pampangan, menurut Abrar, dikenal sebagai ternak tipe dwiguna yaitu penghasil daging dan susu. Kerbau-kerbau rawa pampangan menghasilkan susu atau puan dan menjadi bahan baku gulo puan, semacam fermentasi susu kerbau dan gula. Gulo puan ini adalah makanan favorit di lingkungan kesultanan pada masanya.


Teknik memerah susu kerbau rawa pampangan tak seperti pada sapi, susah-susah gampang. Untuk mendapatkan susu dari induknya, perlu melibatkan anak kerbau atau gudel di dalam prosesnya. Gudel akan dibiarkan dulu menyusui pada induknya. Dan beberapa saat kemudian si anakan dipisahkan dari induknya untuk dilanjutkan ke proses pemerahan susu.


Doktor bidang produktivitas hewan pada Program Bioresource Mie University, Jepang, itu menjelaskan, jika proses di atas tidak dilakukan, maka susu yang keluar akan sedikit dan bahkan tidak akan keluar sama sekali. Seekor indukan dapat menghasilkan 800-1.200 liter susu dalam masa laktasi yang berlangsung selama 200-300 hari.


Saat ini, tak hanya gulo puan yang bisa dibuat dari susu kerbau pampangan. Kudapan lainnya, seperti sagon puan, juadah puan, srikaya puan, dan minyak kerbau, pun bisa. Dibutuhkan setidaknya 10 liter susu kerbau pampangan untuk menghasilkan 4 kilogram gulo puan atau sagon puan. Produk olahan susu kerbau pampangan tadi bernilai jual tinggi.


Untuk tiap kilogram gulo puan, kita harus menebusnya dengan harga tak kurang dari Rp. 80.000 dan seharga Rp. 150.000 untuk tiap kilogram sagon puan. Selain daging dan susu, kotoran kerbau pampangan juga dimanfaatkan masyarakat di kawasan rawa gambut sebagai pupuk dan bahan baku biogas.


Ancaman Kepunahan


Kendati demikian, di antara beragam keunggulan seperti disebut tadi, terdapat beberapa hal yang menjadi ancaman bagi kepunahannya. Misalnya saja makin berkurangnya lahan penggembalaan karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan pembukaan perkebunan kelapa sawit. Seperti yang terjadi di Pedamaran, salah satu habitat alami kerbau rawa pampangan. Karakter perkebunan sawit yang rakus air menyebabkan pada musim kemarau lahan-lahan gambut menjadi cepat kering sehingga mudah terbakar.


Kondisi tadi menyebabkan ternak kesulitan mendapatkan pakan alaminya berupa rumput hijau yang tumbuh subur di sekitar rawa gambut. Karena itu tak sedikit dari para peternak yang menjual kerbau rawa pampangan. “Sebagian lainnya ditemukan tewas karena kurang makan,” kata Abrar berdasarkan riset yang dilakukannya pada 2019.


Dalam rentang 10 tahun saja, populasi ternak ini menyusut hingga 10.000 ekor. Dalam catatan Abrar, pada 2010 populasi kerbau rawa pampangan berjumlah 15.000 ekor. Namun pada 2019 hanya tersisa 10.000 ekor dengan jumlah terbanyak di Pampangan sebagai habitat in situ, yaitu 5.000 ekor.


Hal lain yang cukup mengganggu kelestarian ternak endemik ini adalah usia produktif indukannya yang makin lambat karena ditemukan adanya induk yang baru bunting di usia 15 tahun. Normalnya usia produktif mereka di kisaran 8-9 tahun. Masyarakat setempat pun hanya menjadikan kerbau rawa pampangan sebagai tabungan keluarga dan belum menjadi usaha produktif.


Abrar khawatir, jika tidak dilakukan pelestarian kerbau rawa pampangan, bukan hanya fauna ini saja yang tinggal nama. Tetapi juga produk turunan dari susu yang dihasilkannya pun ikut punah. Tak ada lagi yang bisa memproduksi gulo puan, sagon puan, juadah puan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.


Pusat Pengembangan Kerbau


Melihat kondisi itu pada 2014 saat Gubernur Sumsel masih dijabat oleh Alex Noerdin, ia mencanangkan pelestarian ternak endemik ini secara in situ dan ex situ. Ia membangun pusat pengembangan kerbau atau swap buffalo center di Desa Rambutan, Kecamatan Rambutan, Banyuasin. Sebuah lahan penggembalaan seluas 1.200 ha berupa rawa gambut dan daratan disiapkan. Ini menjadi pusat pengembangan dan pelestarian ternak kerbau rawa terintegrasi pertama di Indonesia.


Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan pengiriman 4 orang pakar ternak dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dinas Peternakan, serta Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah Sumsel mengikuti pelatihan manajemen budi daya dan industri kerbau ke International Buffalo Federation (IBF) di Roma, Italia, Agustus 2014 silam. Pemerintah Provinsi Sumsel juga melakukan studi banding ke Philippine Carabao Center di Kota Munoz, Nueva Ejica, Filipina. Ini adalah salah satu pusat pengembangan kerbau terbaik di Asia.


Guru besar riset bioteknologi Puslitbang Bioteknologi LIPI Baharuddin Tappa, salah satu peserta pelatihan kerbau rawa ke Roma, mengatakan bahwa perlu upaya peningkatan mutu genetik untuk menyelamatkan populasi kerbau rawa pampangan. Seperti dikutip dari Antara, salah satu caranya adalah melakukan kawin silang dengan kerbau unggul asal Italia yang terkenal memiliki produksi susu melimpah dan kualitas daging yang sangat baik.


Semua itu dilakukan agar kerbau rawa pampangan tetap bisa lestari sebagai fauna endemik yang bernilai ekonomi tinggi dari Sumsel sejalan dengan menjaga kelestarian lingkungan habitatnya agar tidak ikut dirusak. Sehingga plasma nuftah ini tidak punah dan hanya tinggal namanya saja. Yuk kita lestarikan fauna asli Indonesia sambil ikut menjaga dan merawat lingkungan di sekitar habitatnya.


Penulis: Anton Setiawan


Postingan populer dari blog ini

Danrem 081/DSJ Resmikan Ambulance IGD dan Ruang Isolasi Rumkit Tingkat IV Madiun

AENEWS9.COM| |Kota Madiun – Rumah Sakit tingkat IV Madiun saat ini semakin meningkatkan kualitas sarana dan prasarana yang dimiliki. Salah satunya yaitu dengan keberadaan satu unit mobil ambulance IGD baru dan ruang isolasi. Diharapkan dengan sarana dan prasarana yang semakin baik, nantinya akan dapat membuat rumah sakit tersebut semakin maju dari segi pelayanaannya. “Apa yang sudah ada agar terus dikembangkan. Supaya rumah sakit ini semakin baik dan bagus,” kata Danrem 081/DSJ Kolonel Inf Waris Ari Nugroho, S.E, M.Si, dalam sambutannya, Selasa (11/1/2022). Lebih dari itu, Danrem juga berpesan agar Karumkit tingkat IV Madiun, Mayor Ckm dr. Aan Riswandi Sp.PK mampu terus berinovasi dan berkreasi. “dr. Aan meskipun masih baru menjabat sebagai Karumkit harus terus mendesain rumah sakit ini supaya tetap semakin bagus,” lanjutnya. Dengan adanya berbagai upaya yang terus dilakukan, Danrem berharap masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan dari Rumkit tingkat IV Madiun akan se...

4 Jembatan Garuda Selesai di bangunn di Ponorogo Hadirkan Beribu Manfaat

Ponorogo,  KLIKAENEWS.COM - Empat Jembatan Garuda berjenis jembatan gantung telah selesai dibangun di Kabupaten Ponorogo. Keempatnya berada di Desa Sidoarjo (Kecamatan Jambon), Desa Mojomati (Kecamatan Jetis), Desa Jalen (Kecamatan Balong), dan Desa Bungkal (Kecamatan Bungkal). Kehadiran jembatan-jembatan tersebut mampu menghadirkan beribu manfaat, baik bagi masyarakat maupun kemajuan desa. Di Sidoarjo misalnya, kehadiran Jembatan Garuda mampu menghapus kesulitan-kesulitan warga selama ini. "Sebelum ada jembatan, warga harus memutar lebih jauh jika mau ke wilayah sebelah, termasuk anak-anak yang mau berangkat sekolah dan warga yang mengangkut hasil panen, jika hujan dan banjir maka harus menunggu banjir reda lebih dahulu agar bisa lewat," kata Kepala Dusun Sidowayah Katimun di lokasi jembatan, Selasa (8/9/2026). Cerita sama juga terjadi di Mojomati, Jembatan Garuda sepanjang 70 meter dengan lebar 1,2 meter yang dibangun menjadi penghubung antara Kecamatan Jetis dengan Kecamat...

Paslon 1 Terpilih, Pemilihan Ketua OSIS SMPN 3 Ponorogo Jadi Praktik Demokrasi Pelajar

PONOROGO   KLIKAENEWS.COM-  Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 3 Ponorogo masa bakti 2026/2027 menjadi ruang belajar demokrasi bagi para pelajar. Dari tiga pasangan calon yang berkompetisi, pasangan nomor urut 1, Kinaya Adiasti Azzaha dan Jingga Az-Zahra Al-Fath Setiawan, terpilih memimpin organisasi siswa tersebut untuk masa bakti 2026/2027.Rabu (23/09/2026 Paslon 1 memperoleh 316 suara. Paslon 2, Ozie Gentha Mahardika Nadindra dan Maulana Damar Dwi Guna, meraih 143 suara, sedangkan Paslon 3, Yusuf Ilyasa Al Hafidh dan Justin Fan Aprilio, memperoleh 117 suara. Sebanyak 63 suara dinyatakan tidak sah. Pemilihan yang diikuti tiga pasangan calon serta peserta didik kelas VII, VIII, dan IX itu dirancang sebagai sarana pembelajaran demokrasi bagi warga sekolah. Selain Paslon 1, terdapat Paslon 2 Ozie Gentha Mahardika Nadindra dan Maulana Damar Dwi Guna, serta Paslon 3 Yusuf Ilyasa Al Hafidh dan Justin Fan Aprilio. Kepala SMPN 3 Ponorogo H.Subhan Masruri, S.Pd., mengatakan k...